(اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ)SELAMAT DATANG DI MAJLIS AL-MUSTHOFA MAKASSAR (MAJLIS PARA HABAIB DAN ULAMA)

Senin, 17 September 2012

Sufi Road : Menembus Alam Ruhaniah

Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jailani R.A di dalam kitabnya al-Ghunyah; 1/101, menyebutkan: “Di dalam hati manusia terdapat dua ajakan: Pertama ajakan malaikat. Ajakan malaikat itu mengajak kepada kebaikan dan membenarkan kepada yang benar (haq); dan kedua, ajakan musuh. Ajakan musuh itu mengajak kepada kejahatan, mengingkari kebenaran dan melarang kepada kebajikan”. Yang demikian telah diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud R.A.

Selasa, 14 Agustus 2012

MALAM LAILATUL QADAR DALAM AL-QURAN


Berbicara tentang Lailat Al-Qadar mengharuskan kita  berbicara tentang surat Al-Qadar.
Surat  Al-Qadar  adalah  surat  ke-97  menurut urutannya dalam Mushaf.  Ia  ditempatkan  sesudah  surat  Iqra'.  Para   ulama Al-Quran menyatakan bahwa ia turun jauh sesudah turunnya surat Iqra'. Bahkan sebagian di antara mereka menyatakan bahwa surat Al-Qadar turun setelah Nabi Saw. berhijrah ke Madinah.
Penempatan urutan surat dalam Al-Quran dilakukan langsung atas perintah  Allah  Swt.,   dan   dari   perurutannya   ditemukan keserasian-keserasian yang mengagumkan.

Kamis, 09 Agustus 2012

MERENUNGI AKHIR RAMADHAN

Tidak terasa kita sudah berada di penghujung bulan
Ramadhan. Rasulullah saw. sangat mengagungkan 10 hari akhir Ramadhan ini,
beliau bersungguh-sungguh luar biasa, tidak seperti biasanya. Beliau melakukan
hal demikian, padahal beliau sudah mendapat jaminan pengampunan dari Allah
swt., semua kesalahan yang terdahulu maupun yang akan datang.Bagaimana dengan kita? yang penuh dengan kesalahan dan
kealpaan. Tentu, kita lebih membutuhkan pengampunan Allah swt., oleh karena
itu, kita lebih butuh untuk mencontoh Rasulullah saw, dalam mengagungkan 10
hari akhir Ramadhan ini, kita bersungguh-sungguh mengisinya, semoga Allah swt.
memberikan rahmat-Nya kepada kita, mengampuni dosa kita dan menjauhkan kita
dari api neraka. Amin
20 hari pertama Ramadhan adalah kesempatan menghimpun
keta’atan dan pensucian jiwa dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban dan fadhoilul
a’mal. 10 hari akhir Ramadhan adalah kesempatan berlipat bagi yang merasa
kehilangan keutamaan 20 hari pertama Ramadhan sebelumnya. Allah menjadikan 10
hari akhir Ramadhan ini bak minyak kesturi perpisahan, lebih khusus lagi dengan
hadiah lailatul qadar. Malam yang lebih baik dari 1000 bulan  (83 tahun 4 bulan) dalam sejarah manusia.
I'tikaf Ramadhan
tidak lama lagi segera berpamit. Untuk lebih khusyuk beribadah dan lebih banyak
berdoa, kita harus mendekat. Rasulullah saw mengajari kita bagaimana mengakhiri
Ramadhan dan mendekatkan diri kepada Allah.
Di antara sunnah Rasulullah saw yang selalu dilakukan pada paruh terakhir bulan Ramadhan
adalah i'tikaf. Secara bahasa i'tikaf berarti menetapi sesuatu dan menahan diri
agar senantiasa tetap berada padanya., baik berupa kebaikan maupun keburukan.
Allah berfirman, (yang artinya):

"Dan Kami seberangkan Bani Israil ke
seberang lautan itu, setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang beri'tikaf
(menyembah) berhala mereka,..." (QS al-A'raf : 138).

Selasa, 07 Agustus 2012

Risalah Al Qusyairi : Lapar dan Menahan Nafsu


Abd al-Karim ibn Hawazinal-Qusyairi

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,(QS. 2:155)

Anas bin Malik menuturkan bahawa ketika Fatimah ra memberikan sepotong kecil roti kepada Rasulullah saw, baginda bertanya, “Apa ini wahai Fatimah?” Dia menjawab, “Sepotong roti yang saya masak sendiri. Hati saya tidak akan tenang sebelum saya memberikan roti ini kepada ayah.”. Beliau menjawab, “Ini adalah sepotong makanan pertama yang memasuki mulut ayahmu sejak 3 hari ini.”

Dikatakan Sahl bin Abdullah hanya makan setiap 15 hari. Manakala bulan Ramadhan tiba, dia tidak makan sampai dia melihat bulan baru, dan tiap kali berbuka, dia hanya minum air saja.

Sahl bin Abdullah berpendapat, “Ketika Allah SWT menciptakan dunia, Dia menempatkan dosa dan kebodohan di dalam kepuasan nafsu makan dan minum, serta menempatkan kebijaksanaan di dalam lapar.”

Selasa, 17 Juli 2012

MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

MENYAMBUT BULAN RAMADHAN
Hendaklah kita menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan beberapa perkara berikut:
1. Membayar hutang puasa (apabila mempunyai hutang) sebelum masuk bulan Ramadhan.
2. Memperbanyak puasa dan membaca Al-Qur’an serta amal saleh lainnya pada bulan Sya’ban untuk persiapan Ramadhan.
3. Mempersiapkan diri (lahir dan batin / jasmani dan rohani) secara matang.

DIANTARA KEUTAMAAN SHOUM (BERPUASA) DAN BULAN RAMADHAN:
1. Diturunkan di dalamnya Al-Qur’an. (QS. Al-Baqarah: 185).
2. Pintu-pintu surga dibuka dikarenakan banyaknya amal saleh dari orang-orang mukmin.
3. Pintu-pintu neraka ditutup sebagai rahmat bagi orang-orang mukmin dikarenakan sedikitnya maksiat.
4. Setan-setan dibelenggu sehingga tidak sebebas hari-hari lainnya. ( Ketiganya adalah hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim beserta syarh para ulama).
5. Setiap malam ada penyeru yang berseru: “Wahai orang yang berbuat kebaikan menghadaplah dan wahai orang yang berbuat keburukan berhentilah”.
6. Setiap malam Allah memerdekakan hamba-hambaNya dari api neraka. (Keduanya adalah hadits riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah dengan sanad hasan).
7. Orang yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala Allah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim).
8. Pahala puasa dilipatgandakan oleh Allah tanpa batas. (HR. Bukhari dan Muslim).
9. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu: ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan Allah. (HR. Bukhari dan Muslim).
10. Bau mulut orang berpuasa lebih wangi disisi Allah dari Misk (parfum yang paling wangi). (HR. Bukhari dan Muslim).

Kamis, 12 Juli 2012

Kesedihan Seorang Ibu



Kesedihan Seorang Ibu
Dizaman dulu adan seorang yang dikenal oleh masyarakat sekelilingnya bahwa ia adalah seorang yang
baik. Pada suatu waktu ia ingin sekali pergi ke Mekkah Al-Mukarramah, namun orang tuanya tidak mengizinkannya pergi karena sayangnya kepada anaknya tersebut. Anak itu, karena keinginannya yang sangat, maka pergilah ia dan tidak memperdulikan lagi larangan orang
tuanya. Ketika ia berangkat, ibunya mengikuti dari belakang sambil
menjerit-jerit, memanggil-manggilnya dan melarangnya jangan pergi, namun
anaknya itu tetap bertekad berusaha meneruskan perjalanannya. Melihat keadaan yang
demikian, ibunyapun berdo’a dan bermunajat kepada Allah; “Wahai Tuhanku,
sungguh aku merasa sedih karena perginya anak itu, saya telah melarangnya namun
ia tetap pergi, wahai tuhanku, sungguh kepergiannya menyedihkan saya ;wahai
tuhanku, timpahkan atas dirinya suatu bencana”.

Rabu, 30 Mei 2012

Hikmah Dan Kisah

Dini hari itu Ali bin Abi Thalib bergegas bangun untuk mengerjakan
shalat Subuh berjamaah di masjid bersama Rasulullah. Rasulullah
tentulah sudah berada di sana. Rasanya, hampir tidak pernah Rasulullah
keduluan orang lain dalam berbuat kebaikan. Tidak ada yang istimewa
karena memang itulah aktivitas yang sempurna untuk memulai hari, dan
bertahun-tahun lamanya Ali bin Abi Thalib sudah sangat terbiasa.


Langit masih gelap, cuaca masihlah dingin, dan jalanan masih pula diselimuti
kabut pagi yang turun bersama embun. Ali melangkahkan kakinya menuju
masjid. Dari kejauhan, lamat-lamat sudah terdengar suara Bilal
memanggil-manggil dengan adzannya yang berkumandang merdu ke segenap
penjuru Kota Madinah.

Namun belumlah begitu banyak melangkah, di
jalan menuju masjid, di hadapannya ada sesosok orang. Ali mengenalinya
sebagai seorang kakek tua yang beragama Yahudi. Kakek tua itu
melangkahkan kakinya teramat pelan sekali. Itu mungkin karena usianya
yang telah lanjut. Tampak sekali ia sangat berhati-hati menyusuri jalan.

Ali sebenarnya sangat tergesa-gesa. Ia tidak ingin tertinggal mengerjakan
shalat tahyatul masjid dan qabliyah Subuh sebelum melaksanakan shalat
Subuh berjamaah bersama Rasulullah dan para sahabat lainnya.


Ali paham benar bahwa Rasulullah mengajarkan supaya setiap umat muslim
menghormati orang tua. Siapapun itu dan apapun agamanya. Maka, Ali pun
terpaksa berjalan di belakang kakek itu. Tapi apa daya, si kakek
berjalan amat lamban, dan karena itu pulalah langkah Ali jadi melambat.
Kakek itu lemah sekali, dan Ali tidak sampai hati untuk mendahuluinya.
Ia khawatir kalau-kalau kakek Yahudi itu terjatuh atau kena celaka.


Setelah sekian lamanya berjalan, akhirnya waktu mendekati masjid, langit sudah
mulai terang. Kakek itu melanjutkan perjalanannya, melewati masjid.


Ketika memasuki masjid, Ali menyangka shalat Subuh berjamaah sudah usai. Ia
bergegas. Ali terkejut sekaligus gembira, Rasulullah dan para sahabat
masih rukuk pada rakaat yang kedua. Berarti Ali masih punya kesempatan
untuk memperoleh shalat berjamaah. Jika masih bisa menjalankan rukuk
bersama, berarti ia masih mendapat satu rakaat shalat berjamaah.


Sesudah Rasulullah mengakhiri shalatnya dengan salam, Umar bin Khattab
memberanikan diri untuk bertanya. “Wahai Rasulullah, mengapa hari ini
shalat Subuhmu tidak seperti biasanya? Ada apakah gerangan?”

Rasulullah balik bertanya, “Kenapakah, ya Umar? Apa yang berbeda?”


“Kurasa sangat lain, ya Rasulullah. Biasanya engaku rukuk dalam rakaat yang
kedua tidak sepanjang pagi ini. Tapi tadi itu engkau rukuk lama sekali.
Kenapa?”

Rasulullah menjawab, “Aku juga tidak tahu. Hanya tadi,
pada saat aku sedang rukuk dalam rakaat yang kedua, Malaikat Jibril
tiba-tiba saja turun lalu menekan punggungku sehingga aku tidak dapat
bangun iktidal. Dan itu berlangsung lama, seperti yang kau ketahui
juga.”

Umar makin heran. “Mengapa Jibril berbuat seperti itu, ya Rasulullah?”

Nabi berkata, “Aku juga belum tahu. Jibril belum menceritakannya kepadaku.”


Dengan perkenaan Allah, beberapa waktu kemudian Malaikat Jibril pun turun. Ia
berkata kepada Nabi saw., “Muhammad, aku tadi diperintahkan oleh Allah
untuk menekan punggunmu dalam rakaat yang kedua. Sengaja agar Ali
mendapatkan kesempatan shalat berjamaah denganmu, karena Allah sangat
suka kepadanya bahwa ia telah menjalani ajaran agamaNya secara
bertanggung jawab. Ali menghormati seorang kakek tua Yahudi. Dari
pegnhormatannya itu sampai ia terpaksa berjalan pelan sekali karena
kakek itupun berjalan pelan pula. Jika punggungmu tidak kutekan tadi,
pasti Ali akan terlambat dan tidak akan memperoleh peluang untuk
mengerjakan shalat Subuh berjamaah denganmu hari ini.”


Mendengar penjelasan Jibril itu, mengertilah kini Rasulullah. Beliau sangat
menyukai perbuatan Ali karena apa yang dilakukannya itu tentunya
menunjukkan betapa tinggi penghormatan umat Islam kepada orang lain.
Satu hal lagi, Ali tidak pernah ingin bersengaja terlambat atau
meninggalkan amalan shalat berjamaah. Rasulullah menjelaskan kabar itu
kepada para sahabat.












Sabtu, 05 Mei 2012

Hakekat Shalat Yang Sebenarnya

Nasehat Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf

Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf adalah salah satu ulama dengan kapasitas ilmu pengetahuan dhohir dan bathin yang diakui oleh ulama-ulama sezamanya. Al Arif Billah Habib Abdullah bin Idrus Al Aydrus menyebut beliau sebagai kholifah di masanya.

Pada satu kesempatan di masjid Thoha, Hadramaut, pada tanggal 20 Syawal 1353 Hijriyah, beliau memberikan ceramah ilmiah bertemakan shalat. Beliau berkata, shalat merupakan sarana paling utama bagi manusia untuk dapat selalu berinteraksi dengan Penciptanya. Dahulu Nabi Zakariya a.s. menjadikan shalat sebagai fasilitas ketika beliau meminta kepada Allah untuk diberikan keturunan.
Doa beliau dikabulkan dan mendapatkan seorang putra yaitu Nabi Yahya yang merupakan anugerah terbesar dalam hidupnya. Rasul SAW bersabda, ‘Hal yang paling membuatku senang adalah shalat’. Dengan shalat beliau merasakan suatu kenikmatan yang tiada banding, berdialog dengan Allah SWT.

Dalam kitab Nashoih Dinniyah Habib Abdullah Alhaddad mengibaratkan shalat sebagaimana kepala pada manusia. Manusia mustahil dapat hidup tanpa kepala. Demikian halnya semua perbuatan baik manusia akan sia-sia jika tanpa disertai shalat. Shalat merupakan parameter diterima atau tidaknya amal perbuatan manusia. Rasul SAW bersabda, ‘Pertama yang diperhitungkan pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya diterima, maka seluruh amal sholehnya diterima, namun jika shalatnya ditolak, maka seluruh amal solehnya ditolak pula.’

Habib Ahmad kemudian bercerita, “Al-walid Sayid Alwi bin Abdurrahman Assegaf berkata, ‘Sesungguhnya pamanku Abdurrahman bin Ali berkata, jika kamu mempunyai hajat baik urusan dunia ataupun akhirat, maka memintalah pertolongan kepada Allah SWT dengan melaksanakan shalat. Bacalah akhir surat Thoha seusai shalat, Insya Allah dengan segala kebesaran-Nya akan dikabulkan hajat dan keinginanmu.’


Namun shalat kita pada masa sekarang ini tidaklah seperti shalat para salaf terdahulu yang penuh khusyu’ dan khidmat. Shalat kita merupakan shalat yang selalu dipenuhi kelalaian dan kealpaan, sehingga sangatlah kecil prosentase diterimanya. Orang-orang sufi terdahulu yang tidak diragukan lagi kedalaman ilmu pengetahuannya, menambahkan tiga rukun pada rukun-rukun shalat yang dikemukakan para ulama fiqih yaitu, khusuk atau tadabbur (hadirnya hati), khudu’(merendahkan diri kepada Allah) dan ikhlas. Firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.”



Penafsiran mereka dalam ayat ini adalah, ‘Janganlah kalian mendekati (mengerjakan) shalat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk oleh kesenangan dunia hingga pikiran kalian kosong dari dari segala urusan dunia.’

Sekarang kita saksikan orang-orang melaksanakan shalat namun hati mereka masih selalu tertuju pada urusan dunia, baik urusan jual beli maupun pekerjaan mereka. Akibatnya mereka lupa berapa rokaat yang telah mereka kerjakan, tidak mengetahui surat apa yang telah dibacakan imam. Mereka sama sekali tidak menghayati bacaan Alfatihah dan ayat-ayat yang lain dalam shalat, mereka tidak menyadari bahwa mereka berdiri di depan Maha Penguasa dan sedang berdialog dengan Maha Pencipta. Urusan-urusan duniawi benar-benar telah menguasai hati manusia.

Orang yang memikirkan urusan dunia dalam shalat sama halnya dengan orang yang melumuri Al-Qur’an yang suci dengan khomer. Shalat yang seharusnya menjadi wadah yang suci telah mereka penuhi dengan kotoran-kotoran yang menjijikkan. Tanpa ada niat ikhlas yang merupakan ruh dari shalat, orang yang demikian diibaratkan oleh Imam Ghozali seperti seseorang yang menghadiahkan seonggok bangkai dengan kemasan rapi kepada seorang raja. Tentunya perbuatan tersebut bukannya menyenangkan hati raja melainkan membuat dia marah dan murka karena dianggap telah melecehkan kehormatan dan kebesarannya.

Para salaf terdahulu memandang shalat sebagai hal yang sangat sakral dan agung. Mereka selalu berusaha melaksanakan dengan sesempurna mungkin. Hingga diantara mereka acapkali dihinggapi burung saat shalat karena sangat khusyuk dan tenangnya. Ada pula yang sampai tidak merasakan dahsyatnya gempa bumi yang meluluh lantakkan bangunan-bangunan di sekitarnya. Bahkan Imam Ali bin Husein sama sekali tak merasakan panasnya kobaran api yang membumi hanguskan rumah beliau saat beliau tenggelam dalam shalatnya. Saat ditanya beliau hanya berujar, ‘Panasnya api yang lain (api neraka) telah membuatku tak merasakan panasnya api dunia.’

Habib Ahmad kemudian memberikan tausiyah, ‘Rasul SAW bersabda, ‘Ada seorang lelaki di antara kamu, rambut di kedua pipinya telah memutih namun tidak diterima satu pun shalatnya.’ Ini menunjukkan bahwa tak ada satu shalat pun yang dia kerjakan dengan khusyuk. Padahal, mulai usia 15 tahun hingga enam puluh tahun sudah berapa kali dia mengerjakan shalat. Jika tidak ada satu shalat pun yang dia kerjakan dengan khusyuk, itu berarti hatinya benar-benar dikuasai urusan keduniaan.

Ini adalah masalah kompleks di tengah masyarakat Islam yang harus disikapi dengan serius, terutama bagi para ulama dan penuntut ilmu. Adapun orang awam pada zaman sekarang sudah merasa cukup dengan shalat serba praktis seperti yang biasa mereka kerjakan. Bahkan di antara mereka ada yang mengeluh jika mendapati seorang imam shalat terlalu lama. Mereka lebih memilih imam yang lebih cepat dan ringkas sembari mengesampingkan unsur kekhusyukan yang sebenarnya esensial dalam shalat. Bagaimana dengan shalat kita?

Sekilas Riwayat Syaikh Yusuf Al-Makassari

Nama lengkapnya Tuanta Salamka ri Gowa Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Yaj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Banteni. Tapi, ia lebih populer dengan sebutan Syekh Yusuf. Sejak tahun 1995 namanya tercantum dalam deretan pahlawan nasional, berdasar ketetapan pemerintah RI.

Beliau tercantum namanya sebagai seorang pahlawan nasional Indonesia sejak tahun 1995, beliau lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, (dekat Makassar) pada 03 Juli 1626 dari pasangan Abdullah dengan Aminah dengan nama Muhammad Yusuf. Nama ini diberikan oleh Sultan Alauddin, raja Gowa, yang juga adalah kerabat ibunda Syekh Yusuf, keluarga Gallarang Monconglo’E adalah keluarga bangsawan dimana Siti Aminah, ibunda Syekh Yusuf berasal. Pemberian nama itu sekaligus mentasbihkan Yusuf kecil menjadi anak angkat raja.
Syekh Yusuf berasal dari keluarga bangsawan tinggi di kalangan suku bangsa Makassar dan mempunyai pertalian kerabat dengan raja-raja Banten, Gowa, dan Bone. Syekh Yusuf sendiri dapat mengajarkan beberapa tarekat sesuai dengan ijazahnya. Seperti tarekat Naqsyabandiyah, Syattariyah, Ba`alawiyah, dan Qadiriyah. Namun dalam pengajarannya, Syekh Yusuf tidak pernah menyinggung pertentangan antara Hamzah Fansuri yang mengembangkan ajaran wujudiyah dengan Syekh Nuruddin Ar-Raniri dalam abad ke-17 itu.

Pendidikan agama diperolehnya sejak berusia 15 tahun di Cikoang belajar mengaji pertama kali pada Daeng Ri Tassamang, guru kerajaan Gowa. Syekh Yusuf juga berguru pada syekh terkenal di Makassar saat itu yakni Sayyid Ba-lawi bin Abdul Al-Allamah Attahir dan Jalaludin Al-Aydit. Kembali dari Cikoang Syekh Yusuf menikah dengan putri Sultan Gowa, lalu pada usia 18 tahun, Syekh Yusuf pergi ke Banten sebelum melanjutkan perjalanan ke Aceh. Di Banten ia bersahabat dengan putra mahkota Kerajaan Banten Pangeran Surya (Sultan Ageng Tirtayasa), yang kelak menjadikannya mufti Kesultanan Banten. Di Aceh, Syekh Yusuf berguru pada Syekh Nuruddin Ar-Raniri dan mendalami tarekat Qodiriyah sampai mendapat ijazah Tariqat Qodiriyah. Dari Aceh Syekh Yusuf juga berangkat mencari ilmu ke Yaman, dan berguru pada Syekh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi sampai mendapat ijazah tarekat Naqsabandiyah. Ijazah tarekat Assa’adah Al Ba’laiyah juga diperolehnya dari Sayyid Ali Al-Zahli. Ia juga melanglang ke se-antero Jazirah Arab untuk belajar agama. Gelar tertinggi, Al-Taj Al-Khalawati Hadiatullah, diperolehnya saat berguru kepada Syekh Abu Al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub Al-Khalwati Al-Quraisyi dari Syam (Damaskus). dilanjutkan dengan pendalaman bahasa Arab, ilmu fikih, dan tasawuf.
Setelah sampai di Jeddah, Syekh Yusuf meneruskan perjalanannya ke mekkah dan Syekh Yusuf ingin menuntut ilmu kepada imam-imam dari 4 mazhab, tetapi ke empat imam tersebut mengatakan bahwa ia tidak perlu belajar karena ilmu yang Syekh Yusuf punyai sudah cukup. Tetapi imam-imam tersebut menganjurkan agar Syekh Yusuf belajar kepada Abu Yazid, Dari sini Syekh Yusuf disuruh lagi belajar kepada Syekh Abdul Al-Qadir Al Jailani. Syekh Yusuf juga mengunjungi makam Nabi di madinah. Kemudian Syekh Yusuf kembali ke Banten dan menikah dengan putri sultan Banten yang bernama Syarifah. Setelah raja gowa mendengar bahwa Syekh Yusuf berada di Banten, raja Gowa mengirim utusan agar supaya Syekh Yusuf kembali ke tanah Gowa. Akan tetapi Syekh Yusuf menolak dengan pernyataan bahwa beliau tidak akan kembali ke Gowa apa bila kesufiaannya tidak sempurna (Sufi yang dimaksud yakni akhir kehiduapannya) maka sebelum beliau mati beliau tidak akan pernah kembali ke Gowa. Di Banten Syekh Yusuf mempunyai banyak murid dan murid-murid Syekh Yusuf juga ada dari kalangan istana kerajaan di Jawa Barat. Dari pernikahannya Syekh Yusuf dengan putri Banten diberikan keturunan anak laki-laki. Kemudian Syekh Yusuf menikah juga dengan seorang wanita dari Serang dan Giri yang juga mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan sehingga keturunan Syekh Yusuf di Jawa banyak.
Setelah hampir 20 tahun menuntut ilmu, akhirnya beliau pulang ke kampung halamannya di Gowa. Tapi ia sangat kecewa setelah melihat kampung halamannya porak poranda dan maksiat merajalela, saat itu Gowa baru kalah perang melawan Belanda. Setelah berhasil meyakinkan Sultan untuk meluruskan pelaksanaan syariat Islam di Makassar, beliau kembali merantau pada tahun 1672 ia berangkat ke Banten. Saat itu Pangeran Surya sudah naik tahta dengan gelar Sultan Ageng Tirtayasa. Di Banten ia dipercaya sebagai mufti kerajaan dan guru bidang agama. Syekh Yusuf menjadikan Banten sebagai salah satu pusat pendidikan agama. Murid-muridnya datang dari berbagai daerah, termasuk di antaranya 400 orang asal Makassar di bawah pimpinan Ali Karaeng Bisai. Di Banten pula Syekh Yusuf menulis sejumlah karya demi mengenalkan ajaran tasawuf kepada umat Islam Nusantara. Seperti banyak daerah lainnya saat itu, Banten juga tengah gigih melawan Belanda. Permusuhan meruncing, sampai akhirnya meletus perlawanan bersenjata antara Sutan Ageng di satu pihak dan Sultan Haji besert aKompeni di pihak lain. Syekh Yusuf berada di pihak Sultan Ageng dengan memimpin sebuah pasukan Makassar. Namun karena kekuatan yang tak sebanding, maka akhirnya pasukan Sultan Ageng dikalahkan Belanda tahun 1682. Mualilah babak baru bagi kehidupan Syekh Yusuf, hidup dalam pembuangan. Ia mula-mula ditahan di Cirebon dan Batavia (Jakarta), tapi karena pengaruhnya masih membahayakan pemerintah Kolonial, ia dan keluarga diasingkan ke Srilanka, bulan September 1684. Bukannya patah semangat, di negara yang asing baginya ini beliau memulai perjuangan baru. Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap aktif menyebarkan agama Islam, sehingga dalam waktu singkat murid-muridnya mencapai jumlah ratusan, yang kebanyakan berasal dari India Selatan. Beliau juga bertemu dan berkumpul dengan para ulama dari berbagai negara Islam. Salah satunya adalah Syekh Ibrahim Ibn Mi’an, ulama besar yang dihormati dari India. Ia pula yang meminta Syekh Yusuf untuk menulis sebuah buku tentang tasawuf, berjudul Kayfiyyat Al-Tasawwuf. termasuk mereka yang berguru pada Syekh Yusuf. Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, beliau juga bisa leluasa bertemu dengan sanak keluarga dan murid-muridnya di negeri ini. Kabar dari dan untuk keluarganya ini disampaikan melalui jamaah haji yang dalam perjalan pulang atau pergi ke Tanah Suci selalu singgah ke Srilanka. Ajaran-ajarannya juga disampaikan kepada murid-muridnya melalui jalur ini. Hal itu merisaukan Belanda. Mereka menganggap Syekh Yusuf tetap merupakan ancaman, sebab dia bisa dengan mudah mempengaruhi pengikutnya untuk tetap memberontak kepada Belanda. Lalu dibuatlah skenario baru; beliau diasingkan ke lokasi lain yang lebih jauh, ke Afrika Selatan pada bulan Juli 1693. Menekuni jalan dakwah pada bulan-bulan pertama bagi Syekh Yusuf dan 49 pengikutnya di Afrika selatan. Untuk pertama kalinya mereka sampai di Tanjung Harapan dengan kapal De Voetboog dan ditempatkan di daerah Zandvliet dekat pantai (tempat ini kemudian disebut Madagaskar). Di negeri baru ini, ia kembali menekuni jalan dakwah. Saat itu, Islam di Afrika Selatan tengah berkembang. Salah satu pelopor penyebaran Islam disana adalah Imam Abdullah ibn Kadi Abdus Salaam atau lebih dikenal dengan julukan Tuan Guru.

Tuan Guru lahir di Tidore. Tahun 1780, ia dibuang ke Afrika Selatan karena aktivitasnya menentang penjajah Belanda. Selama 13 tahun ia mendekam sebagai tahanan di Pulau Robben, sebelum akhirnya dipindah ke Cape Town. Kendati hidup sebagai tahanan, aktivitas dakwah pimpinan perlawanan rakyat di Indonesia Timur ini tak pernah surut. Jalan yang sama ditempuh Syekh Yusuf. Dalam waktu singkat ia telah mengumpulkan banyak pengikut. Selama enam tahun di Afrika Selatan, tak banyak yang diketahui tentang dirinya, sebab dia tidak bisa lagi bertemu dengan jamaah haji dari Nusantara. Kendati putra Nusantara, namanya justru berkibar di Afrika Selatan. Ia dianggap sebagai sesepuh penyebaran Islam di negara di benua Afrika itu. Tiap tahun, tanggal kematiannya diperingati secara meriah di Afrika Selatan, bahkan menjadi semacam acara kenegaraan. Bahkan, Nelson Mandela yang saat itu masih menjabat presiden Afsel, menjulukinya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’. Usianya pun saat itu telah lanjut, 67 tahun. Ia tinggal di Tanjung Harapa nsampai wafat tanggal 23 Mei 1699 di Cape Town Afrika Selatan dalam usia 73 tahun. Oleh pengikutnya, bangunan bekas tempat tinggalnya dijadikan tugu peringatan. Sultan Banten dan Raja Gowa meminta kepada Belanda agar jenazah Syekh Yusuf dikembalikan, tapi tak diindahkan. Baru setelah tahun 1704, atas permintaan Sultan Abdul Jalil, Belanda pengabulkan permintaan itu. Tanggal 5 April 1705 kerandanya tiba di Gowa untuk kemudian dimakamkan di Lakiung keesokan harinya.

Selasa, 24 April 2012

Tanda Matinya Hati

Hati adalah tempat mangkalnya berbagai perasaan, tumbuh kembang antara kebaikan dan keburukan. Hati juga menjadi sumber ilham dan permasalahan, tempat lahirnya cinta dan kebencian, serta muara bagi keimanan dan kekufuran.

Hati juga sumber kebahagiaan jika sang pemiliknya mampu membersihkan berbagai kotorannya yang berserakan, namun sebaliknya ia merupakan sumber bencana jika sang
empunya gemar mengotorinya.

Hati yang kotor hanya akan menyebabkan kapasitas ruangnya menjadi pengap, sumpek, gelap, dan bahkan mati. Jika sudah mati seluruh komponen juga akan turut mati. Dalam makna yang sama, Abu Hurairah RA berkata, “Hati ibarat panglima, sedangkan anggota badan adalah tentara. Jika panglima itu baik maka akan baik pulalah tentaranya. Jika raja itu buruk maka akan buruk pula tentaranya.”

Pada akhirnya kita bisa mengenali dalam keadaan apa hati seseorang itu mati. Di antaranya adalah pertama, taarikush shalah, meninggalkan shalat dengan tanpa uzur atau tidak dengan alasan yang dibenarkan oleh syar’i. (QS Maryam [19]: 59).

Imbas dari seringnya meninggalkan shalat adalah kebiasaan memperturutkan hawa nafsu. Dan, kalau sudah demikian, dia akan menabung banyak kemaksiatan dan dosa. Ibnu Mas’ud menafsirkan kata ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut dengan sebuah aliran sungai di Jahanam (neraka) yang makanannya sangat menjijikkan. Bahkan, tempatnya sangat dalam dan diperuntukkan bagi mereka yang membiarkan dirinya larut dalam kemaksiatan.

Kedua, adz-dzanbu bil farhi, melakukan kemaksiatan dan dosa dengan bangga. Alih-alih merasa berdosa dan menyesal, justru si pemilik hati yang mati, ia teramat menikmati kemaksiatan dan dosanya. (QS al-A’raf [7]: 3).

Ketiga, karhul Qur'an, benci pada Alquran. Seorang Muslim, jelas memiliki pedoman yang menyelamatkan, yaitu Alquran. Tapi, justru ia enggan berpedoman dan mencari selamat dengan kitab yang menjadi mukjizat penuntun sepanjang zaman ini. Bahkan, ia membencinya dan tidak senang terhadap orang atau sekelompok orang yang berkhidmat dan bercita-cita luhur dengan Alquran.

Keempat, hubbul ma'asyi, gemar bermaksiat dan mencintai kemaksiatan. Nafsu yang diperturutkan akan mengantarkan mata hatinya tertutup, sehingga susah mengakses cahaya Ilahi. Sehingga, ia lebih senang maksiat daripada ibadah.

Kelima, asikhru, sibuk hanya mempergunjing dan buruk sangka serta merasa dirinya selalu lebih suci. Keenam, ghodbul ulamai, sangat benci dengan nasihat baik dan fatwa-fatwa ulama. Berikutnya, qolbul hajari, tidak ada rasa takut akan peringatan kematian, alam kubur, dan akhirat.

Selanjutnya, himmatuhul bathni, gila dunia bahkan tidak peduli halal haram yang penting kaya. Anaaniyyun, masa bodoh terhadap keadaan dan urusan orang lain. Keluarganya menderita, dia tetap saja cuek. Al-intiqoom, pendendam hebat, al-bukhlu, sangat pelit, ghodhbaanun, cepat marah, angkuh, dan pendengki. Na’udzubillah. Semoga kita semua dijaga dari hati yang mati

Kamis, 29 Maret 2012

BIOGRAFI As-Sayyid Al-Habib Reza Bin Muchsin Al-Hamid

Alhabib Reza bin Muhsin Alhamid adalah putra pertama dari pasangan habib Muhsin bin Ali alhamid dan syarifah Nur binti Abu bakar alaydrus. Ibu dari habib Reza ini merupakan cucu dari Al habib Husen bin Abu bakar alaydrus shohibul luar batang yang terkenal kewaliannya. Habib Reza lahir pada hari Senin, 10 Syawal 1404 H. Beliau mempunyai empat saudara kandung yaitu Syarifah Jamilah, habib Muhammad Zacky, syarifah Khuriyah dan habib Abu bakar.

Nama lengkap beliau yaitu Habib Reza bin Muchsin bin Ali bin Ahmad bin Muhsin bin Abdullah bin Salim bin Abu bakar bin Muchsin bin Idrus bin Umar bin Abdulloh bin Hamid bin Syaikh Abu bakar bin Salim. Yang menurut silsilah nasab adalah cucu ke-13 dari Alfakhrul wujud Assyaikh Abu bakar bin Salim. Assyaikh Abu bakar bin Salim nasabnya menyambung hingga sayyidina Husein bin Imam Ali Kwh dan binti sayidatuna Fatimah azzahro binti Rasululloh SAW. Tali rantai nasabnya tidak terputus di salah satu keturunannya. Nama atau gelar alhamid itu sendiri didapat dari salah seorang putra Assyaikh Abu bakar bin Salim Yang bernama Hamid yang artinya orang yang suka bersyukur atau memuji Alloh. Habib Reza adalah seorang anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya hal ini dapat dilihat dari ketulusan hatinya dalam menuntut ilmu yang mana itu adalah keinginan orang tuanya agar dapat meneruskan ajaran datuk2nya dan di semua kegiatan beliau selalu meminta doa restu orangtua.

Setelah habib reza tamat SD di makasar beliau meminta doa restu kepada kedua orangtuanya dan itu adalah keinginan orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan di pulau jawa. Adapun tujuan yang pertama beliau tuju yaitu di pondok pesantren Alkhairaat yang beralamat di jalan Rawalumbu, Bekasi yang diasuh oleh Alhabib Hamid Naqib bin Muhammad BSA sekitar tahun 1996 sampai tahun 1999. Setelah dirasa cukup mondok disana kemudian pada tahun 1999 sampai tahun 2003 melanjutkan pendidikannya ke pondok pesantren Darullughoh wa da’wah Jawa timur, pimpinan Alhabib Hasan bin ahmad  Baharun yang sekarang diasuh oleh putra-putra beliau yaitu habib ali zain al abidin Baharun dan habib segaf Baharun. Setelah lima tahun mondok di Darullughoh habib reza belum puas akan ilmu-ilmu yang sudah didapat karena beliau haus akan ilmu kemudian beliaupun berangkat ke jakarta sekitar tahun 2003 tepatnya di pondok pesantren Ats Tsaqofah al-islamiyah pimpinan Alwalid alhabib Abdurrahman bin Ahmad assegaf di Bukit duri, Jakarta selatan.

Hingga pada akhirnya atas dorongan orangtua habib reza berangkat ke Ribath Darulmusthofa al aidid pimpinan alhabib Umar bin Muhammad BSA di Hadroulmout, Yaman  selama kurang lebih tiga tahun. Menurut daftar tertib santri habib umar dari catatan habib ali alhadad, maka habib reza terhitung dari angkatan ke-2 dari indonesia tetapi dari daftar habib umar adalah angkatan ke-5 dari indonesia. Tujuan dakwah habib Umar adalah Tauhidul ummah (mempersatukan umat) yang belum syahadat disyahadatkan dan yang sudah bersyahadat di ta'qidkan. Hal ini diteruskan oleh santri-santri habib umar yang ada di penjuru dunia khususnya indonesia dan itulah yang di emban habib reza dalam da'wahnya mempersatukan umat.

Selama di hadroumout habib reza banyak mendapatkan ijazah dari para wali dan habaib yang ada disana. Antara lain ijazah dari al allamah al musnid al muhaddits sayyidil habib umar bin muhammad bin hafidz,al allamah  al faqih habib ali masyhur bin muhammad bsa mufti tarim,al allamah habib abdullah bin muhammad bin syahab qolbu tarim,al allamah al faqih habib salim bin abdullah as syatiri,al allamah habib sa'ad al idrus imam mesjid segaf tarim dan beliau juga mendapatkan ijazah dari beberapa munsib di hadromaut. Setelah habib reza pulang ke indonesia atas izin Alloh dan karena takdir Alloh akhirnya habib reza tinggal di Tegal pada tahun 2007 dan mendapatkan seorang istri orang tegal dari qobilah alhadar yaitu syarifah Mumtazah binti Muchsin alhadar. dan Alhamdulillah habib reza sekarang sudah dikaruniai 4 orang anak, 3 putri dan 1 putra.anak pertama beliau fatimah yang di beri nama dari guru beliau habib umar bin hafidz,anak ke 2 zainab yang di beri nama dari habib salim as syatiri,anak ke 3 ali annaqib yang di ambil dari nama kakek dan guru beliau dan anak ke 4 ruqoyyah yang di beri nama dari ayah beliau habib muchsin.

Kegiatan dakwah habib reza berpusat di makassar dan kadang ke jakarta,kalimatan dan beberapa wilayah di pulau jawa, pernah habib reza berdakwah ke Riau selama dua setengah bulan di daerah Enok dalam (pedalaman Riau). Kemudian habib reza juga pernah berda'wah di tegal selama 4 tahun dan mendirikan majelis ta’lim di tegal dengan nama Darun Nadzir Albarokat berdiri kurang lebih pada tahun 2007 didirikan atas dorongan khusus alhabib Mahdi alhiyed dan ustad Sulthon Barmawi dan ashab-ashab Darulmustofa yang ada di tegal. Pada majelis ta’lim habib reza mengkaji dua kitab yang pertama dalam ilmu fiqih menggunakan kitab Taqrirotul sadidah dan yang kedua dalam ilmu tasawuf menggunakan kitab Almawaridul rawiyah alhaniyah karangan Alhabib Ahmad bin Zain alhabsy. Habib reza juga suka berdakwah kepada para pemuda khususnya pemuda yang ikut grup motor ketika di tegal.

adapun sekarang beliau sudah kembali ke kampung halamannya dan berda'wah di makassar sulawesi selatan.dalam jangka waktu yang cukup singkat da'wah beliau di terima segala lapisan masyarakat.dan beliau mendirikan majlis al musthofa dengan majlis inilah da'wah beliau menyebar di sentora indonesia timur khususnya di sulawesi dan beliau di berikan amanat untuk memimpin front pembela islam di sulawesi selatan.

dengan majlis al musthofa dan fpi yg beliau pimpin da'wah beliau semakin tersentuh di seluruh lapisan masyarakat sulawesi selatan.da'wah beliau dengan akhlaq dan adab rosullah saw itu tampak dengan pemahaman keilmuan beliau namun tak jarang sikap tegas dalam da'wah beliau tampak ketika islam di hina atau dilecehkan .

semoga allah swt memantapkan dan mengistiqomahkan da'wah beliau dan di kuatkan ketabahan dan kesabaran dalam da'wahnya.
amin...amin... yaa robbal alamin...